Google The Company


Memanjakan Karyawan ala Google
Judul Buku: Kisah Sukses Google
Pengarang: David A. Vise dan Mark Malseed
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penulis Resensi: Meisia

Sungguh enak menjadi karyawan Google. Selain mendapat opsi saham yang membuat mereka saat ini kaya raya, dalam pekerjaan sehari-hari kenyamanan dan kesenangan mereka sangat diperhatikan oleh perusahaan.

Dalam buku Kisah Sukses Google yang dibagi menjadi 26 bab ini memang tidak ada bab khusus yang berhubungan langsung dengan pengelolaan SDM. Tapi, dalam banyak bab terselip cerita tentang bagaimana Sergey Brin dan Larry Page, kedua “Google Guys” itu, menerapkan strategi yang membuat karyawan betah bekerja dan orang di luar tertarik untuk bergabung.

Brin dan Page menawarkan sepuluh alasan untuk bekerja di Google. Termasuk, teknologi yang hebat, opsi saham, cemilan dan minuman gratis, serta kepastian bahwa jutaan orang “akan menggunakan dan memuji perangkat lunak Anda.”

Kedua pendiri dan pemilik Google itu mewawancarai sendiri para calon karyawan mereka. Dan, itu sebisanya tetap mereka lakukan meskipun jumlah karyawan Google saat ini sudah mencapai lebih dari 4000 orang. Mereka merombak hierarki dalam organisasi tradisional dan menjalankan perusahaan dengan cara mereka sendiri.

Buku ini menggambarkan betapa Brin dan Page berhemat sekali ketika membangun infrastruktur komputer untuk menjalankan bisnisnya. Namun, mereka berani mengeluarkan dana berapa pun untuk menciptakan kultur yang tepat di lingkungan Googleplex (kompleks kantor
Google di Silicon Valley) dan menumbuhkan kesetiaan serta kepuasan kerja sebesar-besarnya di kalangan para Googler (sebutan untuk karyawan Google). Benda-benda yang menunjukkan budaya tersebut –bola lempar warna-warni, lampu lava dan aneka mainan di
sana-sini– menghadirkan suasana keceriaan sebuah kampus perguruan tinggi ke dalam perusahaan. Semua itu, Brin dan Page yakin, akan kembali secara berlimpah dalam jangka panjang.

Para karyawan Google bekerja keras sepanjang waktu, namun mereka diperlakukan seperti keluarga: diberi makan gratis, minuman kesehatan cuma-cuma, dan cemilan yang berlimpah. Para Googler juga menikmati sejumlah kemudahan seperti layanan binatu, penata rambut, dokter umum dan dokter gigi, pencucian mobil –dan, belakangan tempat penitipan anak, fasilitas kebugaran lengkap dengan pelatih pribadi, tukang pijat profesional– yang praktis membuat orang tidak perlu meninggalkan kantor.Tak ketinggalan: Voli pantai, fusbal, hoki sepatu roda, lomba skuter, pohon palma, kursi bean bag, bahkan anjing. Semuanya dalam rangka menghadirkan suasana kerja yang menyenangkan dan mendorong kreativitas sehingga para karyawan Google, yang kebanyakan masih muda dan lajang, senang menghabiskan waktu mereka di sana. Google bahkan mencarter beberapa bus dengan akses internet nirkabel sehingga para Googler yang tinggal di San Francisco bisa tetap produktif, bisa langsung bekerja menggunakan laptop
daripada kesal atau melamun karena macet sewaktu berangkat bekerja.

Aturan Dua Puluh Persen

Yang paling menarik dari semua sistem yang diterapkan Google terhadap karyawannya, dan sangat dinikmati, adalah aturan bahwa semua software engineer harus menggunakan setidaknya 20% waktu mereka –kira-kira sama dengan sehari dalam seminggu– untuk mengerjakan proyek apa pun yang mereka minati. Aturan 20% ini merupakan cara untuk mendorong inovasi, dan baik Brin maupun Page memandangnya sebagai sesuatu yang penting dalam rangka membangun dan mempertahankan kultur yang benar. Di samping, menciptakan tempat yang membuat orang-orang cerdas mau bekerja dan termotivasi untuk melahirkan gagasan-gagasan terobosan.

Dalam buku ini diungkapkan, seperti juga telah dimaklumi di mana-mana, di banyak perusahaan, mengerjakan proyek sampingan atau mengembangkan gagasan baru di luar tugas pokok umumnya tidak diperbolehkan. Bagi orang-orang kreatif, ini sering membuat mereka terpaksa mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi, sewaktu bos sedang tidak ada. Di Google, pendekatan 20% tersebut menyarankan pesan yang sebaliknya –gunakan satu hari dalam seminggu untuk apa pun yang paling Anda inginkan.

Lebih dari itu, secara berkala proyek-proyek pribadi itu didiskusikan bersama dengan rekan-rekan kerja yang lain. Proyek yang dianggap layak untuk diteruskan akan dibiayai sepenuhnya oleh Google. Banyak terobosan baru Google telah lahir dari penerapan aturan 20% ini.

Google vs Microsoft

Pentingnya SDM dalam perusahaan teknologi seperti Google ditunjukkan dalam pertarungan Google melawan Microsoft. Sementara banyak pakar membandingkan kedua perusahaan itu dalam hal strategi perangkat lunak dan produk, mereka sendiri justru cenderung kurang memperhatikan medan perang yang sesungguhnya. Pertarungan yang sesungguhnya terjadi di kampus-kampus dan juga bisa di mana-mana, dalam hal merekrut dan mempertahankan orang-orang paling cerdas dari seluruh dunia.

Buku ini mengungkapkan bagaimana CEO Google Eric Schmidt datang ke kampus-kampus untuk merekrut talenta baru, dan bagaimana perebutan SDM yang sengit antara Google dengan Microsoft. Banyak karyawan terbaik Microsoft hijrah ke perusahaan yang lebih muda itu, yang membuat pucuk pimpinan Microsoft Bill Gates menjelang mimpi buruknya.Mengapa Google menganggap merekrut orang yang tepat adalah faktor yang paling penting bagi keberlangsungan organisasinya dituturkan sendiri oleh Schmidt, “Rahasia di sini bukan dalam hal mengelola orang-orang ini, melainkan dalam memilih mereka.” Lanjut dia, “Model kerja seperti ini berhasil hanya jika kami mendapatkan orang yang tepat. Ia akan gagal total dalam organisasi dengan orang-orang yang menunggu petunjuk atasan dan hanya boleh mengerjakan proyek tertentu dan berukuran besar. Sedapat mungkin kami berusaha agar jumlah manajer tingkat menengah sesedikit mungkin. Mereka berpeluang menjadi penghambat.

”Cerita-cerita seperti itu, dan masih banyak cerita menarik lainnya dalam buku ini, bisa menjadi inspirasi dalam penerapan sistem pengelolaan SDM khususnya untuk organisasi yang berhubungan dengan teknologi. Selain itu, kisah bagaimana Google menjadi raja mesin
pencari, dan kini juga menjadi perusahaan internet paling dominan di jagat raya ini, sekaligus raksasa pencetak uang, tak kalah menarik sebagai inspirasi dalam berkarya.

Buku ini ditulis oleh David A. Vise, seorang wartawan Washington Post pemenang Pulitzer Prize, dan Mark Malseed, kontributor untuk Washington Post dan Boston Herald.

Comments
One Response to “Google The Company”
  1. Wonderful goods from you, man. I have understand your stuff previous to and you’re just too magnificent. I actually like what you have acquired here, really like what you’re stating and the way in which you say it. You make it entertaining and you still take care of to keep it sensible. I cant wait to read much more from you. This is actually a great web site.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS Ebay

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Archives

%d bloggers like this: