Gunung Bromo

Gunung Bromo

 

Gambar Gunung Bromo dari NASA.

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Bromo Meletus, Penduduk Masih Aman

Pusat Vulkanologi menetapkan zona steril kegiatan manusia dalam radius 3 km dari puncak.
Jum’at, 26 November 2010, 22:25 WIB

Hadi Suprapto

 

Ribuan Suku Tengger lakukan ritual Yadnya Kasada di Gunung Bromo (Antara/ Saiful Bahri)

VIVAnews – Gunung Bromo di Jawa Timur meletus pada pukul 17.40 WIB, Jumat 26 November 2010. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan masyarakat di lereng Gunung Bromo masih aman dan belum perlu mengungsi.

Setelah berstatus awas pada 23 November lalu, Pusat Vulkanologi mengeluarkan zona steril kegiatan manusia dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung. “Pemukiman masih lebih dari 3 kilometer,” kata petugas pengamatan di pos pantau di Desa Ngadisari, Sikapura, Probolinggo, Ahmad Subhan. “Jadi masih aman.”

Zona steril Gunung Bromo antara lain kawasan wisata lautan pasir yang letaknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari kawah.

Hingga malam ini gempa tremor masih terus terjadi. Gempa dibarengi dengan awal kecoklatan yang membumbung hingga 700 meter. “Kondisinya di sini sedang mendung,” kata Subhan kepada VIVAnews pada pukul 20.30.

Dosen Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dan peneliti di Pusat Studi Kebumian dan Bencana, Dr Putu Artama, mengatakan bahwa karakteristik Bromo dengan Merapi berbeda.

“Jika terjadi letusan, material yang dimuntahkan hanya pasir dan abu dengan kisaran radius 6 sampai 10 kilometer,” kata Putu.

Itu berbeda dengan material yang dimuntahkan Gunung Merapi yakni berupa lava pijar,bebatuan, dan juga awan panas ‘wedhus gembel’.

Selain itu, Bromo juga terbentengi oleh lautan pasir. Topografi Gunung ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. “Yang membayakan itu semburan awan berwarna kekuningan. Kandungan belerang yang banyak sangat berbahaya jika dihirup manusia,” ujar Putu. (sj)

Gunung Bromo Meletus

Asap tebal bercampur abu kehitaman mencapai ketinggian 600 meter.
Jum’at, 26 November 2010, 19:07 WIB

Hadi Suprapto

 

Gunung Bromo (ANTARA/Musyawir)

VIVAnews – Gunung Bromo di Jawa Timur yang berstatus awas meletus pada pukul 17.40, Jumat 26 November 2010. Asap tebal bercampur abu kehitaman mencapai ketinggian 600 meter.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono mengatakan, letusan ini bersifat minor dan tidak disertai dentuman. “Material letusan berupa abu yang jatuh di sekitar kawah,” kata Surono.

Saat ini gempa tremor terjadi terus menerus dengan amplituda rata-rata 15 milimeter.

Menurut petugas pengamatan di pos pantau di Desa Ngadisari, Sikapura, Probolinggo, Ahmad Subhan, mengatakan, gempa tremor hingga saat ini masih terjadi. “Penduduk di sekitar masih aman,” katanya.

Bromo dinyatakan ‘awas’ sejak 23 Oktober 2010 lalu. Dosen Pasca Sarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dan peneliti di Pusat Studi Kebumian dan Bencana, Dr Putu Artama, mengatakan karakteristik Bromo berbeda dengan Merapi.

“Jika terjadi letusan, material yang dimuntahkan pasir dan abu dengan kisaran radius 6 sampai 10 kilometer,” kata Putu.

Itu berbeda dengan material yang dimuntahkan Gunung Merapi berupa lava pijar dan bebatuan, juga awan panas ‘wedhus gembel’.

Selain itu, Bromo juga terbentengi oleh lautan pasir. Topografi Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. “Yang membayakan itu adanya semburan berwarna kekuningan, karena kandungan belerang yang banyak sangat berbahaya jika dihirup manusia,” jelas Putu. (umi)

Hingga Pk. 06.00 WIB, Bromo Gempa 26 Kali

Aktivitas vulkanik Bromo cenderung menurun, namun aktivitas seismik justru naik.
Jum’at, 26 November 2010, 08:46 WIB

Elin Yunita Kristanti

 

Gunung Bromo (ANTARA/ Cucuk Donartono)

VIVAnews – Gunung Bromo di Jawa Timur belum beranjak dari status ‘awas’, atau level tertinggi status aktivitas gunung berapi. Menurut petugas pengamatan di pos pantau di Desa Ngadisari, Sikapura, Probolinggo, Ahmad Subhan, pagi ini cuaca di sekitar Bromo terang. Angin bertiup tenang, dan suhu udara berkisar 12 hingga 18 derajat Celcius.

“Bisa terlihat jelas, asap putih tipis bertekanan lemah ke luar dari kawah. Tinggi maksimal 50 meter dan bertiup 100 meter dari bibir kawah,” kata Ahmad saat dihubungi VIVAnews, Jumat, 26 November 2010.

Berdasarkan pengamatan seismik, Kamis kemarin, ada 69 kali gempa vulkanik dengan amplitudo di kisaran 6-35 milimeter. Sementara gempa tremor masih berlanjut.

Menurut Ahmad, aktivitas vulkanik Bromo cenderung menurun. Namun, sebaliknya, aktivitas seismik justru naik. “Sejak pukul 00.00 sampai pukul 06.00 WIB, gempa vulkanik sudah terekam 26 kali,” tambah dia. “Rekomendasi masih sama, wilayah 3 kilometer dari kawah steril. Warga dan wisatawan dilarang mendekat.”

Bromo dinyatakan berstatus ‘awas’ sejak 23 Oktober 2010 lalu. Meski dikhawatirkan meletus, Bromo tak seberbahaya Merapi. Dosen Pasca Sarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dan peneliti di Pusat Studi Kebumian dan Bencana, Dr. Putu Artama, mengatakan karakteristik Bromo berbeda dengan Merapi.

“Jika terjadi letusan, material yang dimuntahkan pasir dan abu dengan kisaran radius 6 sampai 10 kilometer,” terang Dr. Putu Artama kepada VIVAnews.com.

Itu berbeda dengan material yang dimuntahkan Gunung Merapi berupa lava pijar dan bebatuan, juga awan panas ‘wedhus gembel’.

Selain itu, Bromo juga terbentengi oleh lautan pasir. Seperti diketahui, topografi Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. “Yang membayakan itu adanya semburan berwarna kekuningan, karena itu kandungan belerang dan sangat berbahaya jika terhirup,” jelas Putu Artama. (kd)

Letusan Bromo dan Merapi, Apa Bedanya?

Yang membayakan dari Bromo adanya semburan berwarna kekuningan. Itu beracun.
Kamis, 25 November 2010, 06:54 WIB

Elin Yunita Kristanti

 

Aktivitas Bromo meningkat (ANTARA/Musyawir)

VIVAnews – Sejak Selasa 23 November 2010 pukul 16.30 WIB, Bromo berstatus Awas. Sejumlah pihak mengkhawatirkan, gunung ini akan meletus seperti halnya Merapi.

Namun, dosen Pasca Sarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dan peneliti di Pusat Studi Kebumian dan Bencana, Dr Putu Artama mengatakan, Bromo beda dengan Merapi.

Kata dia, gunung tersebut memiliki karakteristik atau model erupsi kecil. “Karakteristik yang dimiliki berbeda dengan gunung lainnya seperti Merapi yang tergolong high volcanic. Jika terjadi letusan, material yang dimuntahkan Bromo berupa pasir dan abu dengan kisaran radius 6 sampai 10 kilometer,” terang Dr Putu Artama kepada VIVAnews.com.

Material itu berbeda dengan yang dimuntahkan Gunung Merapi. Pada saat erupsi, Merapi menyemburkan lava pijar dan bebatuan. Juga awan panas ‘wedhus gembel’.

Bromo juga terbentengi oleh lautan pasir. Seperti diketahui, topografi Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah sekitar 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 kilo meter dari pusat kawah gunung.

“Yang membayakan itu adanya semburan berwarna kekuningan, karena itu kandungan belerang dan sangat berbahaya jika terhirup,” tegas Putu Artama.

Sementara untuk kekuatan letusan, menurutnya tergantung keberadaan dapur magma. Semakin dalam dapur magma semakin kuat daya dorong atau muntahan yang dimiliki dan sebaliknya. Terkait itu, pemerintah harus melengkapi teknologi deteksi yang memadai.

Ditambahkan, untuk mengurangi frekwensi letusan sangat tidak mungkin. Sebaliknya yang perlu dilakukan adalah mengurangi dampak dari ‘ulah’ Gunung Tengger Purba tersebut.

Pihaknya menyarankan pemerintah tanggap dengan semua itu. Misalnya, dengan memberitahukan kepada warga sekitar tentang perkembangan yang terjadi. Seperti kapan saatnya untuk dikosongkan. Penentuan jalur evakuasi dan titik-titik pengungsian di radius yang aman.

“Kita harus memikirkan skenario yang terburuk. Ini yang seharusnya sejak di status ‘Awas’ sudah disiapkan. Di list, siapa yang diberi tanggungjawab dan pelaksananya. Berapa jumlah KK yang harus dievakuasi, kemudian ditempatkan dimana, radiusnya berapa untuk kategori aman dan tidak lupa mempertimbangkan pemenuhan berbagai kebutuhan masyarakat pengungsi. Serta untuk berapa lama mereka tinggal di pengungsian,” urainya.

Dihubungi terpisah, pakar Ilmu Geologi dan Kegunungapian Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Amien Widodo menjelaskan, peningkatan status di Bromo harus diwaspadai.  Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun menyiapkan diri untuk menghadapi situasi darurat.

“Antara lain, menyimpan surat atau dokumen-dokumen penting dalam satu tas. Menyiapkan pakaian seperlunya dan makanan untuk kebutuhan mengungsi selama minimal 3 hari. Jangan terpancing isu-isu yang tidak jelas. Sebaliknya, selalu mendengarkan informasi dari yang berwenang,” kata Amien Widodo.

Untuk pemerintah juga harus tanggap. “Ungsikan dulu kelompok masyarakat renta dan lain-lain. Mengingat perubahan status bisa berubah setiap saat, bisa dini hari atau kapan saja,” pungkas Amien.

Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

Bromo dan Letusan Besar 30 Tahun Sekali

Sejak abad 20, Bromo meletus tiga kali, dengan interval yang teratur, yaitu 30 tahun.
Sabtu, 27 November 2010, 06:45 WIB

Hadi Suprapto

 

Kawah di Gunung Bromo (SP/Ikhsan Mahmudi)

VIVAnews – Selama abad ke-20, gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2004.

Sejarah letusan Bromo terjadi pada 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1040, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.

Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (DPL) yang berada di empat wilayah kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk topografi Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai kawah dengan garis tengah sekitar 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 kilometer dari pusat kawah Bromo.

Bromo merupakan salah satu gunung berapi strato tipe A dan terletak di dalam Kaldera Tengger. Ini merupakan gunung berapi termuda dalam jajaran di kaldera Tengger, seperi Gunung Widodaren, Kursi, Segorowedi, dan Batok.

Kaldera Tengger sendiri berukuran 9 x 10 kilometer, dikelilingi oleh tebing curam dengan ketinggian 50 sampai 500 meter.

Jajaran gunung di dalam kaldera dikelilingi oleh batuan vulkanik gunung Tengger Purba. Lantai kaldera bagian utara tersusun oleh batuan pasir, sementara bagian timur dan selatan kaldera didominasi oleh rerumputan.

Gunung Bromo bisa dicapai melalui dua cara,  yaitu melalui lintasan Probolinggo, Sukapura, Ngadisari sampai ke Cemoro Lawang yang merupakan dinding Kaldera Lautan Pasir yang dapat dilakukan dengan kendaraan bermotor, kemudian dilanjutkan dengan lintasan melewati lautan pasir.

Pendakian ke puncak dan pematang kawah dapat dilakukan dengan mudah melalui tangga tembok yang tersedia. Lintasan yang kedua yaitu melalui Pasuruan, Tosari, Jurang Munggal, Lautan Pasir sampai tangga Bromo.

Selain memberikan dampak bencana ketika terjadi aktivitas vulkanis di Bromo, sisi positif keberadaan gunung berapi ini juga dapat kita lihat berupa inventarisasi sumber daya gunung berapi, seperti objek wisata alam.

Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

• VIVAnews

Sejarah letusan

 

Bromo sedang aktif di awal abad ke-20. Foto koleksi KITLV.

Selama abad ke-20, gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2010.

Sejarah letusan Bromo: 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.

silahkan klik tahun diatas………………………

Bromo

Dingin, begitulah yang akan Anda rasakan saat pertama kali Anda keluar dari mobil. Suhu disini mencapai 10 derajat bahkan sampai 0 derajat Celsius saat menjelang pagi. Maka, Anda hendaknya mempersiapkan pakaian dingin, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, syal untuk mengatasinya. Tapi, bila Anda melupakan perlengkapan tersebut, ada banyak penjaja keliling yang menawarkan dagangannya berupa topi, sarung tangan, atau syal.

Pemandangan dari Gunung Pananjakan Bromo

Melihat Matahari Terbit Bromo dari Pananjakan

Pengunjung biasa mengunjungi kawasan ini sejak dini hari dengan tujuan melihat terbitnya matahari. Untuk melihatnya, Anda harus menaiki Gunung Pananjakan yang merupakan gunung tertinggi di kawasan ini. Medan yang harus dilalui untuk menuju Gunung Pananjakan merupakan medan yang berat. Untuk menuju kaki Gunung Pananjakan, Anda harus melalui daerah yang menyerupai gurun yang dapat membuat Anda tersesat. Saat harus menaiki Gunung Pananjakan, jalan yang sempit dan banyak tikungan tajam tentu membutuhkan ketrampilan menyetir yang tinggi. Untuk itu, banyak pengunjung yang memilih menyewa mobil hardtop (sejenis mobil jeep) yang dikemudikan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar berasal dari suku Tengger yang ramah dengan para pengunjung.

Sampai diatas, ada banyak toko yang menyediakan kopi atau teh hangat dan api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu waktu tebitnya matahari. Ada pula toko yang menyewakan pakaian hangat. Menyaksikan terbitnya matahari memang merupakan peristiwa yang menarik. Buktinya, para pengunjung rela menunggu sejak pukul 5 pagi menghadap sebelah timur agar tidak kehilangan moment ini. Anda pun tidak selalu bisa melihat peristiwa ini, karena bila langit berawan, kemunculan matahari ini tidak terlihat secara jelas. Namun, saat langit cerah, Anda dapat melihat bulatan matahari yang pertama-tama hanya sekecil pentul korek api, perlahan-lahan membesar dan akhirnya membentuk bulatan utuh dan memberi penerangan sehingga kita dapat melihat pemandangan gunung-gunung yang ada di kawasan ini. Antara lain, Gunung Bromo, Gunung Batok, atau Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Tangga Menuju Kawah Bromo

Kawah dan Lautan Pasir Bromo

Selesai menyaksikan matahari terbit, Anda dapat kembali menuruni Gunung Pananjakan dan menuju Gunung Bromo. Sinar matahari dapat membuat Anda melihat pemandangan sekitar. Ternyata Anda melewati lautan pasir yang luasnya mencapai 10 km². Daerah yang gersang yang dipenuhi pasir dan hanya ditumbuhi sedikit rumput-rumputan yang mengering. Tiupan angin, membuat pasir berterbangan dan dapat menyulitkan Anda bernafas.

Untuk mencapai kaki Gunung Bromo, Anda tidak dapat menggunakan kendaraan. Sebaliknya, Anda harus menyewa kuda dengan harga Rp 70.000,- atau bila Anda merasa kuat, Anda dapat memilih berjalan kaki. Tapi, patut diperhatikan bahwa berjalan kaki bukanlah hal yang mudah, karena sinar matahari yang terik, jarak yang jauh, debu yang berterbangan dapat membuat perjalanan semakin berat.

Sekarang, Anda harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga untuk dapat melihat kawah Gunung Bromo. Sesampainya di puncak Bromo yang tingginya 2.392 m dari permukaan laut, Anda dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap. Anda juga dapat melayangkan pandangan Anda kebawah, dan terlihatlah lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya. Benar-benar pemandangan yang sangat langka dan luar biasa yang dapat kita nikmati.

Bromo sebagai gunung suci

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Warga Bromo Masih Percaya Alam

Willy Haryono

Liputan6.com, Bromo: Tidak ada yang lebih mengetahui keadaan seisi rumah selain pemiliknya sendiri. Sepertinya hal tersebut berlaku dalam kehidupan masyarakat Bromo. Walau Gunung Bromo berstatus awas, warga sekitar tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa.  

Menurut Priyo Catur Widoyono dari Korps Relawan Indonesia, kearifan lokal masih mengakar kuat di Bromo. Warga merasa menyatu dengan alam sehingga dapat mengetahui berbagai gejala yang dianggap normal atau membahayakan. Menurut beberapa warga, letupan minor dan tremor adalah hal yg biasa terjadi sejak dulu.

“Warga sini lebih mempercayai alam. Mereka biasa merasakan hembusan angin, perubahan suhu, gerak-gerak hewan liar, dan lain-lain,” ujar Catur, Sabtu (27/11). Namun, dikatakannya, warga juga tetap taat terhadap pemerintah dan akan mengungsi bila ada perintah.

Hingga hari ini Bromo masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Asap putih sesekali berubah menjadi hitam pekat lalu membumbung ke udara tanpa henti. Abu vulkanik tersebut tertiup angin ke arah Malang. Aparat keamanan setempat masih berjaga-jaga mengantisipasi kemungkinan terburuk.(MRQ/ADO)

Warga Belum Mengkhawatirkan Status Awas Bromo  

Sufiani Tanjung

Liputan6.com, Probolinggo: Meski sejak Selasa lalu status Gunung Bromo sudah ditetapkan menjadi awas, hal ini tidak membuat aktivitas warga di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, berubah. Salah satunya di Pasar Sukapura yang merupakan pusat dari penjualan sayur mayur.  

Marlin, salah seorang pedagang, mengaku tidak takut dengan status awas Bromo dan tetap berdagang seperti biasa di pasar ini. “Di sini biasa-biasa saja, tidak khawatir,” kata Marlin, Sabtu (27/11) pagi. Namun, Marlin menambahkan, jika ada peringatan untuk mengungsi, maka ia akan mengungsi.

Sekadar informasi, Pasar Sukapura berjarak 18 kilometer dari Gunung Bromo. Sementara radius aman dari Gunung Bromo hingga kini lebih dari tiga kilometer.(BOG)

Warga Tak Terpengaruh Letusan Minor Gunung Bromo

Dandy Arigafur, Sufie Tanjung, dan Willy Haryono

Liputan6.com, Probolinggo: Gunung Bromo kembali mengeluarkan letusan minor tanpa dentuman, Jumat (26/11) petang tadi. Namun, hal itu tidak mempengaruhi warga yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. 

Berdasarkan pantauan tim Liputan6 SCTV, letusan yang terjadi sekitar 17.22 WIB itu mengeluarkan abu vulkanik. Kawah puncak Bromo yang semula berwarna abu-abu terang berangsur-angsur berubah lebih gelap.

Sementara, Liputan6.com yang berada di Hotel Bromo Permai atau tepatnya garis batas awal aman atau sekitar tiga kilometer dari kawah puncak Merapi tidak melihat adanya aktivitas berarti dari masyarakat, personel kepolisian, TNI maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB yang bersiaga.

Rencananya, BNPB akan mengadakan konferensi pers terkait status Gunung Bromo, Sabtu besok guna menjelaskan situasi terkini dan berbagai hal. Termasuk, tindakan antisipasi bencana.

Gunung di Indonesia
Sumatera
Abongabong· Bacan Gutang · Balai · Balak · Bandahara · Bapagat · Batee Hitam · Bateekeubeu · Berakah · Bering · Besagi · Besar · Beser · Beteemecica · Geureudong · Daik · Dempo · Dingin · Gampang · Garba · Gedang Seblat · Gumai · Hitam · Hulu Air Putih · Jabul · Jadi · Kaba · Kalau · Kayu Aro · Kerinci · Krakatau · Lelematsua · Leuser · Lubukraya · Marapi · Maras · Masurai · Mueajan · Nanti · Pandan · Pandan Bungsu · Panetoh · Panjang · Pantai Cermin · Pasaman · Patah · Patahsembilan · Payung · Perkison · Pesagi · Puet Sague · Pinapan · Pugung · Punggur · Rajabasa · Ranai · Ratai · Ridingan · Runcing · Sago · Sanggul · Seblat · Segama · Sekincau · Sembuang · Seulawah Agam · Sibayak · Sibuatan · Sihabuhabu · Sinabung · Singgalang · Sipoimcim · Sorik Marapi · Sumbing · Susup · Talamau · Talang · Tampulonanjing · Tandikat · Tanggamus · Tanggang · Tangkit Cumbi · Tangkit Tebak · Tebo Salak · Tengah Teras · Tinjaulaut · Ulumasen
Jawa
Anjasmoro · Argomayang · Argopuro · Arjuno · Aseupan · Baluran · Bromo · Bukit Tunggul · Burangrang · Butak · Cemarakuning · Cereme · Cikuray · Gajah · Galunggung · Gede · Guntur · Jambangan · Kancana · Karang · Kawi · Kelud · Kembar I · Kembar II · Kucir · Lasem · Lawu · Liman · Lurus · Malabar · Masigit · Merapi · Merbabu · Muria · Pangrango · Papandayan · Patuha · Penanggungan · Pulasari · Raung · Salak · Semeru · Slamet · Suket · Sumbing · Sundoro · Tampomas · Tangkuban Perahu · Telaga Bodas · Tilu · Ungaran · Wayang · Welirang · Wilis · Windu
Bali &
Nusa Tenggara
Abang · Agung · Anak Ranakah · Batukau · Batur · Batutara · Ebulabo · Ebulolobo · Egon · Iliboleng · Iliwerung · Ine Lika · Inierie · Keknemo · Kelimutu · Kondo · Lewotobi · Lewotolo · Loreboleng · Nangi · Rinjani · Sangeang · Sangiang · Sirung · Tambora
Kalimantan
Batubrok · Liangmebang · Mesangat · Bekayan · Beratus · Bukit Batuatau · Bukit Raya · Bukit Sapathawung · Bulu · Halau-halau · Harun · Kaba · Kuung · Liangpran · Lumut · Makita · Palung
Sulawesi
Awu · Bawakaraeng · Bumbungan · Dako · Gambuta · Kajoga · Kalangkangan · Katopasa · Klabat · Latimojong · Lokon · Mabungajon · Mahawu · Mekongga · Nikolalaki · Paniki · Rantekombola · Rantemario · Sojol · Soputan · Tentolomatika · Timbulon · Tinombala · Tompobau
Maluku
Batakbuol · Batusibela · Binaia · Dukono · Gamalama · Gamkonora · Ibu · Isalai · Kapalamadan · Keimatabu · Koton · Loko · Sahuwai · Sulat · Tagapora · Waloolon · Watowato · Wetar
Papua
Arfak · Beriba · Derabaro · Dofonsoro · Dom · Foja · Gombian · Irau · Lina · Puncak Mandala · Mebo · Ngga Pilimsit · Puncak Jaya · Puncak Trikora · Redoura · Testega · Togwomeri · Umsini · Wats · Yamin · Yaramamafaka

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS Ebay

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Archives

%d bloggers like this: