GAME TEMPO DULU PENDIDIKAN SECARA TIDAK LANGSUNG

Berbicara mengenai jaman dulu berarti bicara tentang sejarah, tentang kehidupan di masa lalu. Sejarah bukan sebuah onggokan sampah kehidupan. Sejarah banyak mengajari kita tentang sesuatu, tentang hidup dan tentang kehidupan.
Boleh saja orang jaman sekarang menganggap kuno apa yang terjadi di masa lalu. Dalam konteks rentang waktu bisa dikatakan demikian tetapi dalam konteks hakikat tak selamanya apa yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu tak relevan untuk saat ini.

Salah satunya adalah bermain. Teringat semasa kecil dulu kemudian melihat anak-anak masa kini dan kemudian membandingkan. Sungguh berbeda. Kalau jaman dulu kita terbiasa dengan permainan kolosal , maka saat ini sangat jarang kita temui anak bermain OM rame-rame. Bahkan jaman dulu hampir semua permainan minimal dilakukan oleh dua orang dan nyaris tidak ada yang dilakukan seorang diri. Sebut saja dakon, gobak sodor, kasti, balap lari, benteng, egrang,ular naga,asen, kelereng dan masih ada lagi yang lain. Semua dilakukan beramai-ramai.

Dengan permainan ini mereka diajari untuk bersosialisasi dengan orang lain. Yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa seseorang tak bisa hidup seorang diri, bahwa kita perlu oranglain untuk memenuhi kebutuhan kita. Dengan permainan kelompok kita diajari untuk saling toleransi, mengedepankan kerjasama dan mengajarkan kepemimpinan.

Saking bermanfaatnya kegiatan bermain ini, maka banyak bermunculan lembaga-lembaga training yang mengajarkan bagaimana membentuk kepribadian, menjalin kerjasama dan menumbuhkan toleransi dan keberanian. Kalau dicermati permainan mereka kebanyakan adalah permainan anak-anak jaman dahulu. Inilah bukti bahwa permainan jaman dahulu justru dicari dan diminati karena manfaatnya yang besar.

Namun di jaman sekarang ketika teknologi semakin maju, anak-anak bermain cukup di depan komputer. Anak diberi kesempatan untuk memilih berbagai macam permainan. Dengan kegiatan semacam ini anak akan sedikit bersosialisasi dengan anak-anak lain. Tak heran jika anak menjadi egois, tidak peduli dengan sekitar dan tidak bisa untuk bekerjasama dengan orang lain.

Begitulah cerdiknya orang jaman dahulu. Orang-orang berbuat suatu hal untuk mengatakan suatu maksud tanpa secara langsung. Ketika mereka memberi pelajaran kepada anak-anaknya atau cucu-cucunya mereka tidak melakukan secara langsung. Tidak mengatakan tak boleh ini tak boleh itu. Tetapi melalui perantara entah itu dongeng, cerita, syair, permainan atau lagu. Dengan cara inilah pelajaran yang dimaksud bisa diterima anak-anak tanpa membebani anak-anak tetapi justru membuat pelajaran menjadi semakin asyik.

Sumber : etamgrecek.blogspot.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS Ebay

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Archives

%d bloggers like this: