Gunung Merapi 2010

Letusan Merapi 2010

 

Letusan Merapi 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Merapi di Indonesia. Aktivitas seismik dimulai pada akhir September 2010, dan menyebabkan letusan gunung berapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010, mengakibatkan sedikitnya 28 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan.

Kronologi:

  • 20 September, Status Gunung Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada oleh BPPTK Yogyakarta.
  • 21 Oktober, Status berubah menjadi Siaga pada pukul 18.00 WIB.
  • 25 Oktober, BPPTK Yogyakarta meningkatkan status Gunung Merapi menjadi Awas pada pukul 06.00 WIB.
  • 26 Oktober, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Menurut laporan BPPTKA, letusan terjadi sekitar pukul 17.02 WIB. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km.[3]
  • 27 Oktober, Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus.
  • 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.

Berikut adalah kronologi letusan Gunung Merapi[4]:

  1. Pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit
  2. Pukul 17.18 terjadi awan panas selama 4 menit
  3. Pukul 17.23 terjadi awan panas selama 5 menit
  4. Pukul 17.30 terjadi awan panas selama 2 menit
  5. Pukul 17.37 terjadi awan panas selama 2 menit
  6. Pukul 17.42 terjadi awan panas besar selama 33 menit
  7. Pukul 18.00 sampai dengan 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos Pengamatan Merapi di Jrakah dan Selo
  8. Pukul 18.10, pukul 18.15, pukul 18.25 terdengan suara dentuman
  9. Pukul 18.16 terjadi awan panas selama 5 menit
  10. Pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit
  11. Dari pos Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi
  12. Pukul 18.54 aktivitas awan panas mulai mereda
  13. Luncuran awan panas mengarah ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara

Gunung Merapi

 

Merapi
Ketinggian 2.968 m (9.737 kaki)
Daftar Ribu, Gunung api Tipe A
Lokasi
Lokasi Klaten, Boyolali, Magelang (Jawa Tengah), Sleman (DI Yogyakarta)
Koordinat 7°32’30” LS 110°26’30” BT
Geologi
Jenis stratovolcano
Letusan terakhir 2010

Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak sekitar 27 km dari puncaknya, dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m dan hanya 4 km jauhnya dari puncak. Gunung ini adalah salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).

Geologi Merapi

Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terletak di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik yang tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.[2] Letusan-letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu (kala Pleistosen),[rujukan?] dan sampai 10.000 tahun lalu tipe letusannya adalah efusif (leleran lava). Setelah itu, letusannya juga bersifat eksplosif (ledakan), dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente). Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.

Dalam proyek kerja sama dengan Pusat Vulkanologi Indonesia (PVMBG), ahli geologi Pusat Penelitian Kebumian di Potsdam, Jerman, mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara “signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi”. Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[rujukan?] Diperkirakan, letusan tersebutlah yang menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang.

Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan hulu Kali Bebeng karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar selama 100 tahun terakhir, mengancam 32 desa[5] dan memakan korban nyawa lebih daripada 100 orang (angka masih dapat berubah), meskipun pengamatan terhadap Merapi telah sangat intensif dan manajemen pengungsian telah berfungsi relatif baik.

Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos, Srumbung, Kaliurang, dan Babadan.

Erupsi 2006

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.

Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik – artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.

1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. [6]

8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.

Erupsi 2010

Peningkatan status dari “normal aktif” menjadi “waspada” pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi “siaga” sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi “awas” dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang ke Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[8] 27 Oktober, Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus. 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.

Letusan terbesar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus “awas” (red alert).

Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.

Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak ‘Pondoh’ dan ‘Nglumut’.

Rute pendakian

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Berikut laporan media massa mengenai Gunung Merapi:

Kawah Besar Terbentuk di Merapi
Minggu, 7 November 2010 | 07:33 WIB

KOMPAS/IWAN SETYAWAN

Puncak Merapi Berubah Bentuk–Kondisi puncak Gunung Merapi pascaletusan beberapi kali mengalami perubahan seperti terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (31/10). Erupsi beberapa kali membuat tumpukan material vulkanik di puncak gunung luruh dan membentuk rekahan lebar tempat keluarnya lava.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Gunung Merapi kini memiliki kawah besar di puncaknya, dan diperkirakan berdiameter 400 meter, setelah terjadi letusan pada 4 November 2010.  Badan Geologi memperkirakan telah terbentuk kawah dengan diameter 400 meter di puncak Merapi pascaletusan besar pada 4 November 2010.

“Pascaletusan 26 Oktober 2010, telah terbentuk kawah 200 meter di puncak gunung, tetapi karena letusan pada awal November itu diperkirakan 10 kali lebih besar dibandingkan dengan 26 Oktober lalu, maka kawah yang terbentuk juga diperkirakan lebih besar hingga dua kali lipat,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar, di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Namun demikian, lanjut dia, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti luas kawah dan morfologi puncak Gunung Merapi karena puncak gunung tersebut masih terus tertutup kabut sehingga menghambat pemantauan secara visual. Ia mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK.

“Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap awas dan daerah terdampak juga masih tetap sama yaitu radius 20 kilometer (km),” katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter. Oleh karena itu, lanjut dia, ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas tetapi juga banjir lahar apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

“Masyarakat tetap diimbau untuk menjauhi bantaran sungai karena dinding bantaran sungai itu bisa tergerus atau jika tidak memiliki kepentingan, jangan terlalu lama beraktivitas di jembatan,” katanya.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu. Saat ini, lanjut dia, BPPTK masih mengusahakan untuk menambah alat pemantauan di tiga titik menggantikan tiga seismometer yang rusak karena terkena letusan Gunung Merapi.

Namun demikian, ia mengatakan, pengamatan dan kemampuan analisis perkembangan aktivitas gunung tidak terganggu meskipun alat rusak karena masih tersisa satu seismometer di Plawangan. Sukhyar memperkirakan, jumlah material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga sekarang telah mencapai sekitar 100 juta meter kubik.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai sejumlah isu yang berkembang di masyarakat, seperri adanya isu yang menyebutkan bahwa Gunung Merapi akan mengeluarkan gas beracun.

“Saat terjadi erupsi, gas akan dihasilkan oleh gunung seperti karbon dioksida atau belerang, tetapi gas tersebut hanya akan terkonsentrasi di sekitar puncak. Kalau sudah terendapkan lama, gas-gas itu akan hilang dengan sendirinya,” ujarnya.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga pukul 06.00 WIB suara gemuruh masih terdengar dari jarak 20 km dari puncak gunung.  Sementara itu, awan panas masih terjadi, sehingga warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaannya.

“Gunung Merapi masih terus menerus menyemburkan awan panas sehingga masih dalam status ’awas’,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, Gunung Merapi hingga kini masih menyemburkan awan panas, sedangkan aktivitas kegempaan sejak Jumat (5/11/2010) pukul 00.00 WIB hingga Sabtu pukul 00.00 WIB nihil, baik gempa vulkanik, gempa “multiphase” (MP), dan  frekuensi rendah. Absennya jenis-jenis gempa tersebut digantikan munculnya gempa tremor dan gempa guguran yang berlangsung secara berkesinambungan.

Dari pengamatan visual, petugas di semua pos pengamatan Gunung Merapi melaporkan sejak Jumat  pukul 19:00 WIB hingga Sabtu  pukul 00.00 Merapi tertutup kabut. Mereka hanya mampu mendengar suara gemuruh dari puncak Merapi. Suara tersebut terdengar jelas dari jarak lebih dari 20 km.

Aktivitas Merapi masih berintensitas tinggi. Oleh karena itu, status masih tetap dipertahankan pada level IV atau “Awas Merapi dan Awas lahar”. Wilayah aman bagi pengungsi masih berada di luar radius 20 km dari puncak gunung.

Tipe kombinasi

Letusan Gunung Merapi yang sering terjadi  adalah tipe letusan kombinasi Piropilastika, yakni  letusan gunung yang memuntahkan  materi vulkanik dan awan panas yaitu kerikil maupun pasir halus, kata pakar geologi dari Universitas Pembangunan Nasional ’Veteran’ Yogyakarta Sari Bahagiarti, di Yogyakarta, Sabtu.

Diminta komentarnya tentang letusan Merapi, ia mengatakan letusan Gunung Merapi kali ini hampir sama dengan letusan pada 1930. “Berdasarkan catatan sejarah di tata dasar gunung api, letusan pada 1930 merupakan letusan yang paling besar yang menewaskan 300 jiwa dengan jarak luncur awan panas atau ’wedus gembel’ mencapai 12 kilometer dan itu merupakan jarak luncur paling jauh,” katanya.

Menurut dia, aktivitas Gunung Merapi saat ini sangat aneh dan sulit untuk diprediksi kemana arahnya, namun yang  jelas arah luncur awan panas menyesuikan dengan jalurnya yakni pada alur lembah. Ia mengatakan  aktivitas Gunung Merapi ini juga dapat mengalami kenaikan maupun penurunan sesuai dengan faktor lingkungan yang ada di sekitar Gunung tersebut.

“Jika letusan menurun, ditandai dengan jarak jangkauan awan panas menurun serta bumbungan gasnya rendah. Namun bisa juga aktivitas Gunung Merapi ini meningkat atau mencapai letusan klimaks erupsi gunung api atau yang disebut dengan letusan parosiskmal,” katanya.

Menurut Sari, dengan melihat kondisi dan aktivitas Gunung Merapi yang saat ini, memungkinkan adanya ancaman letusan parosiskmal yang merupakan letusan klimaks dari gunung api.

“Letusan parosiskmal adalah letusan klimaks dari aktivitas gunung api yang akan mengeluarkan seluruh isi di dalam gunung api tersebut yang ditandai dengan magma yang keluar dari perut gunung, tekanan dan energi yang cukup tinggi di sekitar gunung tersebut dan diikuti dengan longsoran bagian gunung api tersebut,” katanya.

Sementara itu, Sari juga mengatakan jika sebagian besar gunung api di Indonesia berada pada satu kawasan tata tektona yang sama sehingga mempengaruhi keaktifan antargunung api.

“Jika salah satu gunung api ada yang aktif maka akan mempengaruhi gunung api lainnya juga akan aktif, karena kondisi gunung api di Indonesia berada di tata kawasan tektona yang sama,” katanya.

Namun, ia berharap dan menghimbau kepada masyarakat, khususnnya masyarakat di Yogyakarta untuk tetap menjauh dari kawasan puncak Gunung Merapi sesuai dengan komando dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait.

“Bagi masyarakat Yogyakarta, agar menjauh dari kawasan Gunung Merapi, sesuai dengan kententuan zona daerah aman yang telah di tentukan,” katanya.

Ia mengatakan aktivitas Gunung Merapi  berbeda dengan aktivitas gunung api lainnya di Indonesia. “Aktivitas Gunung Merapi ini tergolong unik dan menarik, maka sejumlah peneliti tertarik untuk mengkaji dan meneliti gunung yang terletak di antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini,” katanya.

Sari juga mengatakan sebenarnya perkembangan aktivitas Gunung api juga dapat dianalisa dengan visual dan juga telah ada alat yang didesain khusus untuk mengamati dan mengetahui perkembanganya. Saat ini alat sudah tersedia, negara-negara maju sudah memproduksi alat tersebut, hanya untuk di Indonesia mungkin keterbatasan SDM dan alat, karena saat ini jumlah peneliti kegunungapian sangat terbatas,” katanya.

Jauhi bantaran sungai

Warga di bantaran sungai diimbau mematuhi instruksi untuk menghindar sejauh 300 meter dari sungai, karena ancaman lahar dingin Merapi hingga kini masih besar.

“Meskipun beberapa sungai yang teraliri material lahar dingin Merapi masih tergolong kecil, warga diminta tetap waspada,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Sabtu.

“Aktivitas Gunung Merapi yang terpantau sejak Sabtu dini hari masih menunjukkan tingginya luncuran awan panas yang berentetan tanpa henti. Hal ini menandakan Gunung Merapi masih  berbahaya dan tetap pada status awas,” katanya.

Ia mengatakan jika cuaca cerah dan air sedikit surut, bukan berarti warga diizinkan berdekatan dengan sungai, apalagi yang berhulu di Gunung Merapi. Ancaman banjir lahar dan awan panas masih belum dinyatakan berhenti dan masyarakat harus tetap waspada, termasuk saat  cuaca ekstrem seperti hujan deras.

Berdasarkan data seismik di kantor BPPTK Yogyakarta, katanya, tidak tercatat adanya gempa vulkanik sepanjang malam hingga pagi hari. “Tremor, guguran, dan awan panas masih terjadi terus menerus secara berentetan tanpa henti. Laporan dari pos pengamatan Gunung Merapi menyebutkan hingga Sabtu pagi Gunung Merapi sempat tertutup kabut. Namun suara gemuruh bisa terdengar pada jarak 20 kilometer,” katanya.

Dia mengatakan semakin bertambahnya material erupsi yang mengalir ke sungai dengan hulu puncak di Gunung Merapi dan kemungkinan tingginya intensitas hujan di sekitar Gunung Merapi, maka merupakan faktor yang menjadikan potensi banjir lahar memungkinkan terus terjadi.

Ia meminta warga mengosongkan aktivitas di alur sungai sektor tenggara, selatan, barat daya, barat, dan barat laut dalam jarak 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi, yakni Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Radius aman hingga kini masih ditetapkan sejauh 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi. “Paling penting saat ini adalah masyarakat tetap mematuhi instruksi, katanya.

Gemuruh dan Gempa Terus Terjadi
Minggu, 7 November 2010 | 07:19 WIB

TRIBUN NEWS/IMAN SURYANTO

KLATEN, KOMPAS.com – Suara gemuruh terus terdengar dari arah Gunung Merapi Minggu (7/11/2010 ). Pantauan Kompas.com dari Dusun Cabaan, Tanjungsari, Manisrenggo yang berjarak sekitar 28 kilometer dari puncak Merapi, suara gemuruh itu disertai getaran hebat.

Gunung Merapi sejak dini hari hingga sekitar pukul 6.15 tertutup kabut tebal. Hanya awan panas atau whedus gembel yang terlihat membumbung tinggi. Meski bergemuruh sudah terdengar sejak dini hari, getaran hebat berkali-kali mulai terasa sekitar pukul 3.00.

“Sudah nda kehitung gempanya. Kalau gemuruh jendela-jendela goyang,” kata Sunarwo (63), warga sekitar.

Karena jarak dengan puncak Merapi dinilai aman, warga di desa tempat Sunarwo tinggal masih bertahan di rumah masing-masing. Namun, perekonomian hampir lumpuh. Dikatakan Sunarwo, tiga pasar disekitar yakni Kejambon, Kembang, dan Klewer tutup sejak Merapi meletus pertama kali pada akhir Oktober 2010 .

“Pasar tutup karena kebanyakan yang jualan warga dari utara, dekat Merapi. Warung-warung tutup, nda ada yang jual makanan. Bensin aja nda ada. Kita harus lima kilometer ke arah selatan buat cari barang-barang keperluan,” jelas dia.

Kawah Berdiameter 400 Meter Terbentuk?
Sabtu, 6 November 2010 | 13:13 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas terlihat dari Dusun Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (2/11/2010). Pagi ini, Gunung Merapi setidaknya menyemburkan sepuluh kali awan panas (wedhus gembel). Guguran pertama kali terjadi sekitar pukul 05.25 WIB.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Badan Geologi memperkirakan, kawah dengan diameter 400 meter telah terbentuk di puncak Gunung Merapi pascaletusan besar pada 4 November.

“Pascaletusan 26 Oktober, telah terbentuk kawah 200 meter di puncak gunung. Tetapi karena letusan awal November itu diperkirakan 10 kali lebih besar dibanding 26 Oktober lalu, kawah yang terbentuk juga diperkirakan lebih besar hingga dua kali lipat,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Walau demikian, lanjut dia, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti luas kawah dan morfologi puncak Gunung Merapi karena puncak gunung tersebut masih terus tertutup kabut sehingga menghambat pemantauan secara visual.

Ia mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK.

“Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap awas dan daerah terdampak juga masih tetap sama, yaitu radius 20 kilometer (km),” katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Oleh karena itu, ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas, tetapi juga banjir lahar, apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

“Masyarakat tetap diimbau untuk menjauhi bantaran sungai karena dinding bantaran sungai itu bisa tergerus atau jika tidak memiliki kepentingan, jangan terlalu lama beraktivitas di jembatan,” katanya.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Saat ini, BPPTK masih mengusahakan untuk menambah alat pemantauan di tiga titik menggantikan tiga seismometer yang rusak karena terkena letusan Gunung Merapi.

Walau demikian, ia mengatakan, pengamatan dan kemampuan analisis perkembangan aktivitas gunung tidak terganggu meskipun alat rusak karena masih tersisa satu seismometer di Plawangan.

Debu Vulkanik Merapi Ditemukan di Ciomas
Laporan wartawan Kompas.com M.Latief
Sabtu, 6 November 2010 | 22:53 WIB

TRIBUN NEWS/IMAN SURYANTO

BOGOR, KOMPAS.com – Setelah sempat mencapai beberapa wilayah Bogor seperti Cisarua, Ciawi, dan Tajur, debu vulkanis letusan Gunung Merapi juga ditemukan warga di wilayah Bogor lainnya, yaitu Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Kesaksian seorang warga menguatkan hal tersebut meskipun sebaran debu tidak merata di semua kawasan yang terletak di kaki Gunung Salak itu.

“Selain kaca angkot, pohon-pohon di sini juga berdebu dan tidak biasanya begitu. Sebab, dari warnanya berbeda dan begitu disentuh tangan juga rasanya lebih tebal dibanding debu kotoran biasa,” tutur Edi Nurjaman (42), warga perumahan Bukit Asri Ciomas kepada Kompas.com, Sabtu (6/11/2010).

Penuturan lain juga disampaikan Tia (15), seorang siswi kelas satu SMA Rimba Madya, Ciomas, Bogor. Dia mengungkapkan, kondisi di sekitarnya tampak tidak biasa dari yang kerap dilihatnya sehari-hari saat berangkat ke sekolah, Sabtu (6/11/2010) siang tadi.

“Tadi itu, sekitar jam sembilan pagi, saya lihat pemandangan di Gunung Salak tiba-tiba seperti berkabut dan menutup gunung, tapi tidak hujan. Tak lama kemudian terang lagi. Cuma anehnya, kok tiba-tiba sudah banyak debu di jalan. Mungkin, kabut yang saya lihat tadi itu debu,” ujarnya.

Tia mengaku, bukan hanya dirinya yang melihat fenomena tidak biasa tersebut. Saat kejadian, kebetulan Tia sedang bersama-sama teman-teman sekolahnya.

DEPOK, KOMPAS.com – Debu vulkanis letusan Gunung Merapi ternyata juga mencapai wilayah Depok, Jawa Barat. Debu-debu vulkanis berwarna putih keabu-abuan tersebut ditemukan menempel di permukaan dedaunan di halaman rumah warga.

Nur Aprinawati (29), warga Jalan Merapi, Depok Timur, menuturkan, butiran debu vulkanis tersebut ditemukan di hampir semua permukaan dedaunan di pekarangannya saat akan membersihkan rumah, Sabtu (6/11/2010). Dia mengaku heran dengan temuan tersebut.

“Seperti abu puntung rokok, warnanya abu-abu tapi lebih muda. Saya pikir bekas abu rokok, tapi herannya kok ada di semua daun,” ujar Nur kepada Kompas.com.

Ibu dua anak tersebut mengatakan, butiran halus debu tersebut juga tampak membekas saat dibersihkan.

“Bentuknya seperti bercak-bercak karena mungkin turun bercampur hujan gerimis,” katanya.

Nur mengatakan, sebelumnya debu vulkanis tersebut juga ditemukan warga di daerah Depok Timur Dalam. Hal itu dituturkan oleh tetangga depan rumahnya yang memiliki kerabat di wilayah tersebut.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Hingga pukul 13.00, Gunung Merapi masih terus menyemburkan awan panas atau whedus gembel setelah letusan besar Sabtu (6/11/2010) sekitar pukul 07.00. Dentuman keras berkali-kali juga masih terdengar dari arah Merapi.

Siang ini, pantauan dari wilayah Cangkringan, Sleman, Merapi tertutup kabut tebal sehingga semburan dari puncak tidak terlihat. Namun, berdasarkan laporan dari radio panggil, awan panas dilaporkan membubung vertikal. Sebagian awan turun dan mengalir ke Kali Gendol.

Pantauan Kompas.com, kerusakan hebat akibat semburan awan panas kemarin terlihat di sekitar Dusun Desa Wukirsari, Cangkringan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak Merapi. Beberapa rumah rusak, batang-batang bambu tumbang dan menutup jalan. Selain itu, perkebunan warga di sekitar Kali Gendol terbakar. Kepulan asap dari abu di sekitar kali masih terlihat.

Untuk meminimalkan pencurian, warga berjaga-jaga di beberapa akses naik kearah puncak Merapi. Warga meminta identitas masyarakat yang tidak dikenal ketika melintas. Begitu pula ketika pengendara motor dan mobil turun, warga memeriksa surat-surat kendaraan dan barang bawaan di dalam mobil.

Gemuruh Berkali-Kali Terdengar
Minggu, 7 November 2010 | 03:57 WIB

AFP PHOTO / BAY ISMOYO

Lava pijar dan mateial vulkabik dimuntahkan Merapi seperti terlihat dari Klaten, Sabtu (6/11/2010) dini hari.

KLATEN, KOMPAS.com – Suara gemuruh berkali-kali terdengar dari arah Gunung Merapi Minggu ( 7/11/2010 ) sekitar pukul 2.00. Suara gemuruh terdengar dari Dusun Padasan, Desa Tijayan, Manisrenggo, Klaten yang berjarak sekitar 25 kilometer dari puncak Merapi.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, suara gemuruh sudah terdengar sejak kemarin pagi. Suara gemuruh yang sudah tak terhitung jumlahnya terdengar disaat awan panas terus menyembur dari puncak Merapi. Sepanjang hari, Gunung Merapi tertutup asap tebal.

Seperti saat ini, dari Dusun Padasan tidak terlihat Gunung Merapi lantaran tertutup debu. Padahal, menurut warga, jika tak ada debu dan cuaca cerah, Merapi dapat terlihat jelas. Belum terlihat aliran lava pijar dari puncak Merapi.

Meski lokasinya relatif jauh dari puncak Merapi, warga di Dusun Padasan dan sekitarnya telah mengevakuasikan diri ke barak-barak pengungsian di sekitar Candi Prambanan. Tampak belasan warga berjaga untuk meminimalkan aksi pencurian.

“Sudah dari kemarin warga mengungsi,” kata Suroto (47), salah seorang warga.

Galeri

Foto-foto Merapi dari sisi sebelah utara, setelah letusan 2006.

Merapi dari arah Ketep, Magelang.

Dari arah Jrakah, Boyolali.

Dari arah Selo, Boyolali.

Dari arah depan

List of volcanic eruptions by death toll

 

Volcanic eruptions can be highly explosive, volatile, or neither. Certain volcanoes have undergone catastrophic eruptions, killing countless numbers of people, and this list attempts to document those volcanic eruptions by death toll.

Volcanic eruptions

Death Toll↓ Volcano↓ Location↓ Date↓
$Unknown precisely: perhaps 6 million,[1] including a million in Japan,[2] a similar number in France,[2] many in the rest of northern Europe and in Egypt. Killed 9,350 people in Iceland, about 25% of the island’s population. Laki Iceland 1783
$Perhaps left only 10,000 humans alive Lake Toba (see also Toba catastrophe theory) Indonesia Between 69,000 and 77,000 years ago
$Unknown. May have contributed to the fall of Minoan civilization, famine in China, and the collapse of the Xia dynasty. Santorini (see Minoan eruption) Greece Between 1650 and 1500 BC
$92,000 Mount Tambora (see also Year Without a Summer) Indonesia 1815
$36,000 Krakatoa Indonesia 1883
$33,000 Mount Pelée Martinique 1902
$23,000 Nevado del Ruiz Colombia 1985
$18,000 Mount Vesuvius Italy 1631
$15,000 Mount Unzen Japan 1792
$10,000 Mount Kelut Indonesia 1586
$6,000 Santa Maria Guatemala 1902
$5,115 Mount Kelut Indonesia 1912
$4,000 Mount Galunggung Indonesia 1822
$3,500 El Chichón Mexico 1982
$3,360 Mount Vesuvius Italy 79
$2,942 Mount Lamington Papua New Guinea 1951
$2,000 Tseax Cone Canada 1775
$1,680 Soufrière St. Vincent 1902
$1,584 Mount Agung Indonesia 1963
$1,369 Mount Merapi Indonesia 1930
$1,335 Mount Mayon Philippines 1897
$1,335 Mount Taal Philippines 1911
$1,151 Mount Asama Japan 1783
$1,000 Cotopaxi Ecuador 1887
$700 Mount Pinatubo Philippines 1991
$245 Nyiragongo Democratic Republic of the Congo 2002
$152 Mt Ruapehu, Tangiwai New Zealand 1953
$122+ Mount Merapi Indonesia 2010 (Ongoing)
$120 Mount Tarawera New Zealand 1886
$57 Mount St. Helens United States 1980
About these ads
Comments
2 Responses to “Gunung Merapi 2010”
  1. info yang menarik…

    izin nyimak ya…

    di tunggu kunjungan baliknya…

    by auto loan refinancing

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] The busiest day of the year was November 7th with 514 views. The most popular post that day was Gunung Merapi 2010. […]



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS Ebay

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 415 other followers

%d bloggers like this: